Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga kini masih terus menghantui masyarakat. Penyakit tersebut ditularkan dari orang yang sakit ke orang sehat umumnya melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektor pembawa. Sampai saat ini belum ditemukan obat atau vaksin untuk penyakit akibat infeksi virus Dengue. Nyamuk itu juga dapat berperan sebagai vektor untuk penyakit Chikungunya.
Nyamuk Aedes Aegypti hidup terisolir pada ruang yang gelap dan lembab, menyukai air bersih, jernih dan tidak terusik. produksi telurnya cukup tinggi yaitu berkisar 200-400 butir/ekor betina.
Jumlah kasus DBD atau Chikungunya sendiri tidak berbanding lurus dengan jumlah nyamuk yang ditemukan di suatu lokasi. Jumlah kasus penyakit lebih disebabkan oleh perilaku menghisap darah dari nyamuk betina. Untuk mematangkan telur-telurnya, nyamuk betina akan menghisap darah orangsecara berulang atau berganti-ganti ke orang lain sampai darahyang dibutuhkannya mencukupi.
Karena belum ada obatnya untuk membunuh virus dengue dan vaksin antidengue maka satu-satunya cara untuk melawan serangan virus dengue adalah memutus mata rantai penularan penyakit yaitu membasmi nyamuk. Cara konvensional adalah memakai insektisida tapi kelemahannya yaitu mematikan hewan non-target, timbulnya resistensi vektor dan pencemaran lingkungan.
BATAN memanfaatkan iradiator yang dimiliki untuk pengembangan teknik serangga Mandul (tSM) yang mampu menurunkan jumlah populasi nyamuk penyebar penyakit. Teknik ini dilakukan misalnya di sejumlah kawasan di Banjarnegara, Bangka Barat, salatiga dan semarang. sebelumnya telah dilakukan metode percobaan pemeliharaan nyamuk secara massal di laboratorium Hama dan penyakit milik BATAN.
Di luar negeri, konsep TSM secara eksperimen telah dibuktikan melalui keberhasilan program eradikasi lalat ternak di Amerika serikat pada tahun 1958-1959. menghabiskan biaya sebesar Us$10 juta, cara tersebut mampu menghemat biaya pengendalian sebesar Us$140 juta. Saat ini negara lain yang telah memakai TSM untuk pengendalian nyamuk adalah Itali.
Dosis iradiasi gamma dipakai untuk memandulkan nyamuk Aedes Aegypti jantan. nyamuk mandul itu kemudian dilepas ke lapangan atau ke rumah-rumah untuk kawin dengan nyamuk betina. Lama-kelamaan populasi nyamuk pun berkurang. Usia hidup nyamuk jantan yang belum kawin sendiri diperkirakan antara 1-1,5 bulan dan setelah kawin akan mati, sementara nyamuk betina ber tahan sampai dua bulan dan setelah bertelur akan mati.
TSM pada pengendalian nyamuk vektor DBD menjadi cara pengendalian yang ramah lingkungan karena tidak menimbulkan pencemaran, pelaksanaannya mudah dan biayanya juga terjangkau.
Teknik ini juga disebut sebagai pengendalian spesific species yaitu membunuh vektor dengan vektor itu sendiri. Cara ini harus didahului oleh proses sosialisasi yang sangat jelas kepada semua kalangan karena akan melepas nyamuk jantan mandul ke dalam rumah. Ditambah memberi penger tian bahwa yang suka menggigit atau menghisap darah adalah nyamuk betina.
"TSM pada pengendalian nyamuk vektor DBD menjadi cara pengendalian yang ramah lingkungan."
Dari hasil evaluasi pelepasan nyamuk mandul di salatiga, ternyata sanggup menahan angka kasus selama tujuh bulan. Sementara di Banjarnegara menahan sampai enam bulan dan di Bangka Barat sampai tujuh bulan. Berarti dalam setahun cukup dilakukan dua kali pelepasan nyamuk mandul untuk meminimalkan penyebaran DBD. Cara ini sangat efektif ketimbang fogging (pengasapan) dan lebih murah.
BATAN ikut bergerak dalam penelitian kandidat bahan vaksin malaria bekerjasama dengan lembaga eijkman. Bentuk penelitian antara lain mencari dosis radiasi gamma optimal yang dapat melemahkan parasit plasmodium. Tahapan penelitian telah masuk praklinis dan selanjutnya bahan vaksin akan ditambah pada skala laboratorium. Targetnya adalah membuat vaksin malaria yang khas dengan populasi manusia di indonesia.
[Sumber: Badan Tenaga Nuklir Nasional ]
- Comment
- Facebook Comment
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

0 comments:
Post a Comment